admin June 13, 2020
Mengapa Makanan Cepat Saji Laris Untuk Orang Yang Kurang Tidur ?

Berita Terbaru Makanan Dan Minuman Biasanya setelah begadang karena aktivitas malam atau lainnya, terkadang cenderung ngidam makanan yang manis-manis, atau tinggi lemak keesokan harinya. Padahal, biasanya keinginan tersebut masih bisa direm, tapi setelah kurang tidur, kok jadi enggak bisa menolaknya ya?

Ternyata, ada alasan ilmiah dibalik rasa ngidam makan junk food usai begadang atau kurang tidur. Sebuah studi terbaru dari Northwestern Medicine menemukan, kalau hidung dan sistem penciuman kita bisa terpengaruh akibat kurang tidur.

Pertama, indera penciuman kita akan mempertajam aroma makanan pada otak, sehingga ia bisa membedakan mana bau makanan dan yang bukan secara lebih baik.

Namun, pada saat yang sama, terjadi gangguan komunikasi dengan area otak lain yang juga menerima sinyal makanan. Akibatnya, keputusan kita untuk memilih makanan yang disantap jadi berubah.

“Saat kita kurang tidur, area otak tersebut mungkin tidak mendapatkan informasi yang cukup, membuatnya memilih makanan dengan sinyal energi yang lebih kuat,” ungkap penulis penelitian Thorsten Kahnt, sekaligus asisten profesor neurologi di Northwestern University Feinberg School of Medicine .

Akan tetapi, bisa jadi area-area lain tak bisa menerima sinyal yang dipertajam oleh penciuman. Hal ini juga bisa menyebabkan kita lebih memilih untuk makan donat dan keripik kentang.

Kahnt dan tim peneliti melakukan eksperimen terhadap 29 laki-laki dan perempuan berusia 18-40 tahun. Partisipan studi tersebut dibagi menjadi dua kelompok; kelompok pertama mendapat waktu tidur normal, dan empat minggu kemudian, mereka hanya diperbolehkan tidur selama empat jam.

 

 

Mengapa Makanan Cepat Saji Laris Untuk Orang Yang Kurang Tidur ?

 

 

Sebaliknya, kelompok kedua tidur selama empat jam dalam empat minggu, baru mendapatkan waktu tidur normal.
Keesokan hari setelah para responden bangun tidur, tim peneliti menyajikan menu sarapan, makan siang, dan makan malam yang sudah disiapkan. Namun, mereka juga menawarkan camilan yang disajikan prasmanan.

Hasilnya, para responden mengubah pilihan makanan mereka. Setelah mengalami kekurangan waktu tidur, mereka cenderung memilih makanan yang lebih tinggi kalori. Misalnya, donat, kue kering cokelat, dan keripik kentang.

Kahnt dan kawan-kawan juga mengobservasi aktivitas pada insula, area pada otak yang penting untuk menentukan asupan makanan, seperti penciuman dan perasa, serta seberapa banyak makanan yang ada di dalam perut.

Namun, insula pada responden yang kurang tidur mengalami penurunan konektivoitas. Imbasnya, mereka akan mulai menyantap lebih banyak makanan tinggi kalori.

“Penelitian kami menduga, bahwa kurang tidur akan membuat otak kita lebih rentan terhadap aroma makanan yang menggoda,” jelas Kahnt.

Selain memperbaiki waktu tidur, sebaiknya kita juga lebih memperhatikan bagaimana cara indera penciuman memengaruhi pilihan makanan yang akan disantap.

Wah, kalau begitu, pas kebetulan mendapat jadwal penerbangan di pagi buta, sebaiknya jangan lewati toko donat atau camilan kurang sehat, ya!

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*